 |
 |
 |
 |
 |
|
Thursday, April 28, 2005
Sejak Robert Kiyosaki menjadi terkenal di Indonesia berkat para MLM yang ada di Indonesia, istilah Financial Freedom menjadi begitu terkenal. Ada begitu banyak orang yg terobsesi untuk meraih Kebebasan Finasial dan sadar atau tidak telah menobatkan kebebasan finansial sebagai kasta tertinggi dari kehidupan finansial seseorang.
Sayangnya, walaupun Kebebasan Finansial itu telah menjadi kasta tertinggi, tidak mudah bagi orang-orang yg bermimpi itu untuk mencapainya. Ada yang hanya menjadikan kasta tertinggi ini menjadi sekedar wacana, ada yang mencoba beberapa kali jatuh gedebug dan nggak bangun-bangun lagi, ada yang baru berani bermimpi tapi tak tahu bagaimana caranya dan kapan akan meraih kasta tertinggi itu.
Beberapa hari yang lalu, aku baru saja menghadiri sebuah acara diskusi “Financial Planning” yang diisi oleh Mas Godo Tjahyono, yg sekarang menjadi penasihat teknis IARFC ini. Mas Godo membuka mataku, bahwa selain kasta tersebut, ada sebuah kasta lain yang jarang disebut-sebut (setidaknya aku nggak pernah mendengar) yaitu Financial Independence.
Apakah yang disebut dengan Financial Independence atau Kemapanan Finansial itu ? Mas Godo mendefinisikan kemapanan finansial adalah suatu kondisi di mana seseorang dapat memenuhi kebutuhannya, baik jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, dengan cara yang positif menggunakan kekuatan sendiri dan tidak tergantung pada orang lain.
Jika pada kebebasan finansial yang ditekankan adalah “tidak bekerja dan uang datang sendiri” (atau dengan bahasa kerennya passive income lebih besar daripada kebutuhan), maka pada kemapanan finansial yang ditekankan adalah cukupnya kebutuhan hingga akhir hayat (bahkan setelah mati sekalipun).
Orang yang bebas finansial, bisa saja kehilangan status bebas finansial-nya, misalnya karena pada suatu saat passive income-nya mengecil atau kebutuhannya meningkat. Sementara orang yang mapan finansial akan selalu tercukupi kebutuhannya (seperti yang telah didefinisikan di atas). Walaupun tentu saja seseorang bisa berubah statusnya dari mapan finansial menjadi tidak mapan finansial (karena ada musibah yang sangat besar yang tidak terduga), namun peluang ini begitu kecil buat orang yg mapan finansial. Mengapa ? karena orang yg mapan finansial itu adalah orang yang hidup penuh rencana. Dia telah merencakanan kondisi finansial-nya hingga dia mati, bahkan untuk mengatasi berbagai bencana sekalipun.
Lantas, bagaimanakah caranya menjadi seseorang yang mapan finansial ? Di sini lah perannya Financial Planning. Seseorang yang memiliki perencanaan finansial telah mempunyai tujuan-tujuan finansial yang akan dicapai, baik tujuan jangka pendek, tujuan jangka menengah, ataupun tujuan jangka panjang. Rencana ini diimplementasikan dengan menggunakan berbagai instrumen investasi serta dan peningkatan kompetensi, sehingga tujuan-tujuan finansial yang direncakanan bisa tercapai.
Tentu saja Financial Planning ini juga tidak mudah. Di negara-negara maju seseorang bahkan rela membayar konsultan untuk financial planning ini. Walaupun demikian, dengan mempelajari dasar-dasar financial planning, aku bisa melihat bahwa suatu saat kemapanan finansial itu bisa aku raih. Langkah-langkah itu lebih jelas tampak di depan mata, dibandingkan bermimpi untuk meraih Financial Freedom.
Ah, hari ini aku baru saja mempromosikan kasta baru yg lebih menarik daripada sekedar Financial Freedom, yaitu Financial Independent. Aku jadi ingin belajar lebih banyak tentang perencanaan keuangan ini. Ada teman2 yg ingin ikutan ? J
Posted at 07:00 pm by bank_al
PermaLink
Friday, April 01, 2005
The right man in the right place ?
Orang yang yakin dirinya akan beruntung, ternyata menghadapi hidup dengan cara yang berbeda dengan orang yang tidak yakin akan keberuntungan. Apalagi dibandingkan dengan orang yang yakin bahwa dia akan selalu sial.
Keyakinan akan keberuntungan ternyata memicu orang-orang beruntung untuk selalu berusaha mencapai tujuannya walaupun peluang keberhasilannya sangat kecil. Orang-orang beruntung itu tidak takut akan kegagalan, memiliki semangat juang yang tinggi dan juga tak mudah menyerah.
Beberapa saat yang lalu aku baru saja mendengarkan kisah sukses Mas Nukman Lutfie, yg sekarang menjabat sebagai CEO Virtual Consulting. Dalam kisahnya Mas Nukman menuturkan bahwa setelah lulus kuliah (kira2 15 tahun yang lalu), lulusan Teknik Nulkir dgn IP pas pasan itu meninggalkan kampung halamannya dan hijrah ke Jakarta dengan hanya berbekalkan uang saku 100 ribu rupiah. Padahal lulusan UGM yg merasa ndeso tapi percaya diri ini tak memiliki teman apalagi saudara di kota metropolitan itu. Mas Nukman pergi ke Jakarta dengan keyakinan bahwa dia akan berhasil di Jakarta hanya dengan bekal uang 100 ribu rupiah tersebut. Orang lain barangkali tidak berani melakukan itu karena takut akan menjadi gelandangan di Jakarta dengan bekal seminim itu tanpa teman tanpa saudara di sebuah kota yang jauh dari kampung halaman. Namun ternyata keberuntungan memang selalu bersamanya sehingga mantan wartawan yang telah beberapa kali menjadi direktur ini sekarang berhasil mewujudkan cita-citanya mendirikan perusahaan sendiri dan menjadi CEO di sana.
Seorang temanku, Titin Fatimah, alumnus Arsitek UGM yg sekarang sedang melanjutkan study di Jepang, mengaku sebagai seseorang yg sangat beruntung sehingga dijuluki the lucky girl oleh teman-temannya. Menurut pengakuan Titin, rentetan hidupnya selalu dihiasi dengan keberuntungan sehingga apa-apa yang tadinya dia pikir tak dapat diraih ternyata bisa diraihnya Titin mengaku pemalas dan sering tidur di kelas ketika kuliah. Namun entah mengapa, gadis manis yg mengaku tomboy ini seringkali mendapat hasil yang bagus ketika ujian. Setelah wisuda, Titin langsung mendapat pekerjaan membantu dosennya. Secara kebetulan, proyek ini mengenalkan Titin pada salah satu profesor di Jepang, yang akhirnya mewujudkan impiannya untuk bisa sekolah di Jepang. Saat bercerita kepadaku tentang keberuntungannya itu, Titin begitu excited karena dia baru saja mendapatkan sebuah keberuntungan lagi yang membuatnya sangat takjub. Keberuntungan itu adalah undangan mengikuti konferensi forum Unesco di Inggris yang didapatkan karena iseng-iseng mengirimkan paper ke Unesco. Cita-citanya untuk jalan-jalan ke Eropa terpenuhi karena keisengan mengirim paper tersebut.
Kisah Titin ini pernah saya ceritakan pada sebuah presentasi saya. Cerita saya ini mendapat sanggahan, karena menurut salah seorang partisipan cerita Titin itu bukanlah suatu keberuntungan. Menurutnya, yang namanya keberuntungan itu hanyalah sesuatu yg jatuh dari langit tanpa sebab. Dia memberikan contoh keberuntungan adalah seorang tukang becak yg tiba-tiba mendapat hadiah uang puluhan juta rupiah dari salah seorang penumpang becak-nya sehingga si tukang becak itu menjadi kaya raya.
Well, menurut saya sebenarnya si tukang becak itu juga telah melakukan sesuatu sehingga dia beruntung. Tukang becak itu barangkali ramah dan enak diajak ngobrol sehingga si penumpang senang dan kemudian memberinya hadiah uang jutaan rupiah. Andai saja si tukang becak itu tak ramah atau tidak melakukan sesuatu yg bisa mencuri hati si penumpang, tentu ceritanya juga akan berbeda. Atau kalaupun si tukang becak tak melakukan sesuatu, setidaknya dia telah mempersiapkan dirinya untuk menjadi jutawan. Bayangkan seandainya si tukang becak itu tak siap menjadi orang kaya dan tiba-tiba mendapat uang sebegitu banyak. Dia bisa kaget, tidak tahu bagaimana menggunakan uang tersebut sehingga uang itu hilang tanpa bekas, atau malah lebih parah lagi dia menjadi gila karena tak siap menjadi orang kaya. Kalau ini yg terjadi, si tukang becak tak menjadi orang beruntung khan ?
Demikian juga dengan kasus Titin dan undangan ke Eropa. Titin sendiri menganggap peristiwa ini adalah keberuntungan. Kenapa ? Karena dia sebelumnya tidak yakin bahwa paper-nya akan diterima, dia hanya berharap keberuntungan, “iseng” mencobanya dan lagi2 keberuntungan bersamanya. Mungkin ada banyak orang lain yang sebenarnya juga ingin jalan-jalan gratis ke Eropa dan bisa jadi kalau mereka mencoba mengirimkan paper juga akan mendapatkan kesempatan yang sama. Namun yang membuat mereka berbeda dari Titin adalah orang-orang tersebut tidak mau mencoba karena pesimis akan mendapatkannya.
Orang yang beruntung seringkali disebut juga sebagai the right man in the right place. Ini artinya harus ada dua komponen yang dipenuhi, yaitu seseorang itu adalah the right man, dan dia berada pada the right place. A wrong man in the right place tidak akan menjadi orang yg beruntung. Demikian juga yang terjadi dengan the right man in the wrong place. Itu artinya seseorang yang beruntung itu harus menjadi the right man, sehingga ketika kebetulan dia berada pada the right place dia akan menjadi orang yang beruntung. Dengan rumus lain dikatakan bahwa “luck is the matter of preparation meet opportunity” – Oprah Winfrey.
Demikianlah salah satu mekanisme datangnya suatu keberuntungan yang menjelaskan mengapa keyakinan akan keberuntungan akan membawa seseorang menjadi orang yang benar-benar beruntung. Peluang keberuntungan itu barangkali berseliweran di depan kita. Namun karena kita pesimis untuk mencobanya maka kita tak pernah mendapatkannya. Sebaliknya, si beruntung yg selalu bersedia mencoba akan mendapatkan peluang-peluang yang berseliweran itu.
Nah, bagaimana dengan anda ? Punya keinginan yang selama ini tidak anda coba karena tidak yakin akan berhasil ? Kenapa tidak dicoba saja dari sekarang ? Siapa tahu anda beruntung.
(bersambung)
Catatan
Tulisan ini adalalah serial ke 11 dari Faktor keberuntungan yang saya tulis dengan merujuk pada buku yang berjudul Luck Factor karya Richard Wiseman - seorang Doktor pada Fakultas Psikologi di Inggris yang telah melakukan berbagai penelitian tentang Keberuntungan dan cara-cara untuk menjadi beruntung.
Untuk mengikuti seluruh serial Faktor Keberuntungan, silahkan ikuti link ini.
Posted at 02:54 pm by bank_al
PermaLink
Wednesday, March 30, 2005
Anne Ahira - Hanya bisnis tak layak jual
Teman2 masih ingat ceritaku beberapa hari yang lalu yg berjudul " Siapa sih Anne Ahira" ?
Rupanya, "si penawar kerja sama" me-reply balik e-mailku dan memberiku beberapa URL tentang produk yang dijualnya. Dan setelah buka sana buka sini, akhirnya aku menyimpulkan bahwa bisnis yang di-populerkan oleh Anne Ahira ini hanya bisnis tak layak jual. Dan putusanku menjadi bulat untuk tidak tertarik dengan tawaran kerja sama tersebut.
Mengapa bisnis yg dibawa Anne Ahira ini aku sebut bisnis tak layak jual ?
Setidaknya ada 4 alasan yang aku miliki, yaitu:
1. Produk2-nya tidak layak jual
2. Anggota disuruh membayar
3. Skema Piramida tak menguntungkan
4. Menipu customer
1. Produk-Produk yang tidak layak jual
Sebuah produk hanya akan bisa dijual ke pasar jika ada orang yang mau membeli produk tersebut. Tentu saja ada banyak pertimbangan yang dilakukan oleh pembeli sebelum membeli sebuah produk. Salah dua dari pertimbangan itu adalah: kebutuhan dan harga
Jika calon pembeli sangat membutuhkan sebuah produk dan harganya terjangkau oleh si calon pembeli, maka dapat dipastikan si calon pembeli akan membeli produk tersebut. Sebaliknya, jika produk tersebut tidak dibutuhkan, maka calon pembeli tidak akan membeli produk tersebut kecuali tertipu oleh iming-iming lain seperti hadiah dan berbagai trick-trick yang digunakan oleh sales untuk memasarkan produknya. Tentu saja ada banyak pembeli yang membeli sesuatu yg tidak dibutuhkan karena tertipu diskon atau iming2 seperti ini. Namun, walaupun demikian, calon pembeli seperti ini juga akan tetap memikirkan harga. Jika harga produk yang dibeli itu mahal (bagi ukuran pembeli tentunya), maka walaupun si calon pembeli itu tertarik (tertipu) untuk membeli, kemungkinan besar si calon pembeli tak jadi membeli produk karena harga yang tidak terjangkau tersebut.
Lantas, siapa yang akan membeli sebuah produk yg tidak dibutuhkan dan mahal harganya ? Inilah produk yang saya sebut produk tak layak jual.
Lalu bagaimana dengan produk yg ditawarkan oleh the Elit Team ini ? Produk-produk yang ditawarkan adalah membership untuk mengakses konsultasi keuangan dan kesehatan lewat web.
Harga yang harus dibayar untuk menjadi member adalah 60 USD untuk mendaftar, dan 19.95 USD setiap bulan.
Well, kalau saya ditawari produk tersebut, sudah pasti saya tak akan membeli. Untuk apa saya harus membayar 19.95 USD per bulan padahal saya bisa mendapatkan informasi2 seperti itu dengan gratis ? Di Internet dan milis-milis banyak kok informasi seperti itu. Dan kalaupun memang saya sakit, kenapa nggak pergi ke dokter sekalian ? Biaya lebih murah, dan hasilnya lebih terjamin.
Itulah sebabnya produk ini aku sebut tak layak jual.
2. Anggota disuruh membayar
Wow, apalagi ini ? bukankah ajakan untuk mengikuti bisnis ini adalah untuk mendapatkan penghasilan tambahan dan menjadi kaya ? Lantas kenapa anggota disuruh membayar ?
Well, para penjual MLM tentu akan menjawab,"untuk berbisnis, anda perlu modal."
Saya setuju dengan jawaban itu. Hanya saja jawaban itu tidak relevan dengan pertanyaan.
Orang berbisnis memang perlu modal. Namun modal tersebut digunakan untuk membeli barang atau membeli bahan baku keperluan produksi. Dan kemudian hasil produksi tersebut dijual sehingga pebisnis mendapat keuntungan dari selisih harga jual dan modal.
Nah, pada bisnis yg ditawarkan Elite Team ini (atau beberapa MLM lainnya), modal itu digunakan buat apa ? Biaya membership ? Apa anda bekerja di kantor disuruh membayar karena jadi member di perusahaan tersebut ? Buatku ini adalah hal yg konyol. Tidak ada alasan yg masuk akal kecuali bahwa uang membership itu adalah uang yg akan digunakan untuk menggaji upline-upline kita. Loh ? bukannya seharusnya kita yg digaji ? kok ini malah kita yg menggaji ? Katanya mau cari tambahan penghasilan ? kok malah buang2 uang ?
3. Skema Piramida tak menguntungkan
Priyadi telah melakukan hitung2an dan dipublikasikan pada blog-nya. Berdasarkan hitung-hitungan yang telah dilakukan oleh Priyadi, ternyata hanya 0,3% saja dari keseluruhan anggota yang bisa mendapatkan keuntungan seperti yg dijanjikan. Sementara sisa-nya hanya akan merugi, alias penghasilan tiap bulan tidak cukup untuk membayari pengeluarannya untuk menjadi member.
Silahkan dibaca sendiri pada Blog tersebut untuk lebih detailnya.
4. Menipu Customer
Seperti telah saya paparkan pada point 1, produk yg ditawarkan Elite Team ini sebenarnya tak layak jual, dan hanya orang-orang yg tertipu saja yg akan membeli produknya. Siapakah orang-orang yg tertipu itu ? Orang2 tsb adalah orang2 yg ingin cepat kaya dan percaya karena telah melihat kesuksesan Anne Ahira. Iming2 cepat kaya inilah yg membuat orang mau bergabung dengan bisnis ini. Apakah cita2 mereka itu akan tercapai ? Entahlah, tapi hitung2an piramid pada point 3 itu menunjukkan peluang yg sangat kecil untuk berhasil. Anne memang berhasil, karena dia berada pada piramid yg paling atas dan termasuk pada 0,3% tersebut.
Lantas bagaimana dengan sisanya ? Tentunya mereka akan kecewa karena impian mereka tak jadi kenyataan.
Sebuah bisnis hanya akan bertahan dan hidup jika mereka bisa memberi kepuasan kepada customer sehingga customer itu akan kembali dan kembali lagi membeli produknya. Produk yang ditinggalkan oleh customer-customer yg kecewa, lambat atau cepat akan mati. Inilah yg akan terjadi pada bisnis ini. Dan tersisalah orang-orang tertipu yang kecewa.
-----
Demikianlah ulasan saya tentang Elite Team tentang ketidaklayakan bisnis tersebut. Rupanya bisnis ini juga mengundang aksi protes di kalangan pemerhati IT karena Anne Ahira telah mencemarkan Internet Marketing yang sebenarnya adalah sesuatu yang baik.
Semoga tulisan saya ini berguna buat teman2 dan tidak tertipu dengan tawaran-tawaran bisnis semacam ini baik di Internet ataupun di darat.
salam,
-bank al-
Blog lain yang terkait (dikutip dari blog Priyadi Nurcahyo)
Posted at 11:57 am by bank_al
PermaLink
Monday, March 28, 2005
Dalam kehidupan sehari-hari ataupun aktivitas di tempat kerja, seringkali kita dihadapkan pada begitu banyaknya pekerjaan yg harus dikerjakan sehingga kita butuh bantuan orang lain untuk mengerjakan beberapa bagian dari pekerjaan kita. Apapun posisi anda (tidak harus posisi manager), selama anda bekerja dalam sebuah team, maka proses pendelegasian (dalam bahasa sederhananya mencari bantuan) ini akan dibutuhkan dan akan sangat membantu jika bisa dilakukan dengan benar.
Walaupun pendelegasian ini seringkali sangat membantu, namun kadangkala juga pendelegasian ini malah justru menimbulkan masalah baru. Masalah baru bisa berupa keterlambatan, pekerjaan tidak dilakukan seperti yg diinginkan ataupun biaya yang tidak tidak terkontrol.
Salah satu penyebab timbulnya masalah-masalah ini adalah karena ketidakmampuan kita mengkomunikasikan perintah sehingga orang yang dimintai bantuan tidak bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan yang kita inginkan dan dalam waktu yang kita harapkan.
Pemberian perintah ini pada dasarnya bisa dibagi menjadi dua cara, yaitu:
1. Instruksi
2. Delegasi
Pemberian perintah dengan cara instruksi menuntut langkah-langkah yg detail dan tidak membuka ruang bagi pelaksana perintah untuk berimprovisasi. Sebuah instruksi yang tidak lengkap akan menimbulkan hasil yang tidak terduga-duga.
Sebagai contoh: Anda menyuruh pembantu anda membeli rokok. Anda hanya memberinya uang dan menyuruhnya membeli rokok. Tiba2 dia datang dengan rokok kretek, padahal anda hanya suka dengan rokok filter. Ini adalah contoh sebuah instruksi yg tidak lengkap.
Siapa yg salah ? yg memberi instruksi lah, wong instruksinya nggak lengkap kok. :)
Cara pemberian perintah yg lainnya adalah pendelegasian. Dengan cara ini kita memberikan ruang bagi si penjalan perintah untuk berimprovisasi, tidak seperti instruksi.
Oleh karena kita memberikan ruang bagi penjalan perintah untuk berimprovisasi, kita butuh beberapa langkah untuk menjamin perintah bisa dijalankan sesuai dengan yg kita harapkan.
Apa sajakah yg dibutuhkan untuk mendelegasikan sesuatu ? Ada 3 hal yang harus kita komunikasikan dalam pendelegasian, yaitu:
1. Latar belakang dan Tujuan yang ingin dicapai
Jelaskan pada si pelaksana apa yg ingin kita capai dalam tugas tersebut sehingga si pelaksana
bisa berpikir langkah2 apa yg harus dilakukannya untuk mendapatkan tujuan
2. Tenggang Waktu (kapan kita ingin proyek ini selesai)
Jika ini tak dikomunikasikan, bisa jadi si pelaksana berpikri bahwa pekerjaan ini bisa menunggu
hingga 2 bulan untuk selesai, sementara kita hanya ingin 1 minggu sudah selesai.
Pengkomunikasian deadline ini menjamin persamaan presepsi antara kita dan pelaksana
3. Batasan-batasan
Pelaksana harus tahu apa saja yg bisa dia lakukan dan apa yg tidak boleh dia lakukan.
Dengan mengkomunikasikan batasan-batasan ini, kita bisa menghindari masalah-masalah baru
yang mungkin timbul karena ketidak jelasan batasan-batasan.
Demikianlah kirannya summary yg aku dapat dari sebuah siaran radio pagi ini ketika aku sedang menyupir menuju kantor. Semoga berguna buat teman-teman yang ingin memperkaya kemampuan leadershipnya.
Ada teman-teman yg pernah mengalami masalah karena lupa memikirkan ke 3 hal di atas ketika mendelegasikan sesuatu ?
Aku mah sering banget. :)
Posted at 05:42 pm by bank_al
PermaLink
|
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
 |
|
 |