Namaku Bank Al
Catatan Petualangan, Pemikiran dan Harapan



Thursday, July 20, 2006
Pindah Blog

Hari ini secara resmi aku mengumumkan bahwa aku pindah blog ke http://aalinazar.wordpress.com.

Sedih sebetulnya meninggalkan blog ini, yg sudah begitu lama aku maintain dan cukup banyak dikenal oleh teman-teman. Hanya saja, salah satu kekurangan blog ini adalah sulitnya mencari arsip lama karena metode pengarsipannya yg menurutku kurang apik.

Apa boleh buat, terkadang kita harus hijrah untuk sesuatu yg lebih baik. Blog ini akan tetap aku pelihara sebagai sejarah. Sementara new update dan sejarah baru akan kumulai di blog yang baru.

Temen2 main ke sana ya ? Aku tunggu lho.


Posted at 05:53 pm by bank_al
Comments  




Friday, July 07, 2006
Ajari aku menulis dong

Beberapa hari pertama masuk kerja memang terasa melelahkan setelah berlibur walau baru satu minggu saja. Lelahnya melewati lalu lintas Jakarta dan persiapan menghadapi tim audit yang akan segera mengunjungi ladang sayur tempat daku berkebun ini membuatku sedikit keteteran karena ternyata ada banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menghadapi audit.

Walaupun sibuk, tentu saja falsafah hidup yang sudah sejak lama aku anut tidak aku tinggalkan, yaitu,"Kerja sih boleh sibuk, tapi chatting harus jalan terus." Dan oleh karenanya, sambil membaca policy, memeriksa dokumen-dokumen yang ada, dan memikirkan tempat yg enak untuk tidur siang, aku sempatkan diri menyapa seorang teman yang kebetulan juga anggota multiply dan sudah lama tak berjumpa sambil chit-chat sana-sini

Tiba2, temanku berkata,"Bank, ajarin aku nulis dong.". Sebuah permintaan yg tulus dari seorang teman, namun membuatku sedikit bingung menjawabnya karena seketika itu juga aku baru sadar bahwa aku adalah seorang penulis natural, yang bisa menulis bukan karena pernah belajar jurnalistik, namun hanya learning by doing. Keahlian menulis ini sendiri baru saja aku pelajari beberapa tahun ini sejak aku aktif di dunia Internet pada tahun 90an. Sebelumnya aku tidak begitu suka menulis, dan lebih pintar berpidato dan memberikan presentasi sambil ndobosi orang di depan panggung. Media Internet ini memberikan kesempatan kepadaku mentransformasi keahlian bicara di depan public ini pada bentuk tulisan. Mungkin sebetulnya temanku lebih pas jika bertanya pada Mas Tian yang sudah belajar menulis sejak bayi dan sekarang berprofesi sebagai jurnalis, atau Mas Bambang yg tulisannya tentang makanan pernah dimuat di koran.

Menulis sedikit lebih rumit daripada "public speaking", karena dalam "public speaking" kita memiliki kesempatan untuk bisa mendapat feedback langsung dari audience. Dengan memperhatikan audience, kita bisa mengerti apakah pidato kita cukup menarik, membosankan, atau bahkan menyebalkan sehingga kita bisa melakukan sesuatu perbaikan untuk menarik perhatian audience kembali. Sementara pada media tulisan, hal itu tidak begitu mudah didapatkan. Beruntunglah ada multiply dan berbagai blog lainnya yg memungkinkan audience untuk memberikan feedback atas tulisan kita dengan bentuk reply ataupun comments. Walaupun tentu saja feedback alias umpan balik ini hanya akan didapat setelah tulisan selesai - tidak seperti feedback pidato yang bisa didapat pada saat melakukan pidato - namun fasilitas feedback ini cukup membantu untuk perbaikan pada tulisan-tulisan yang mendatang.

Meskipun sedikit berbeda, namun secara umum beberapa tips dari public speaking di bawah ini berguna juga dalam dunia tulis-menulis, yaitu:

1. Kenali siapa pembaca-nya. Pengetahuan tentang siapa yang akan membaca tulisan kita cukup penting. Dengan modal ini, kita bisa memilih topik apa yg menarik minat pembaca, mengetahui gaya menulis seperti apa yg disukai pembaca, dan bisa memilih kosakata yang dimengerti oleh pembaca.

2. Lakukan Interaksi dengan pembaca. Pada dasarnya manusia senang jika kehadirannya diperhatikan oleh orang lain. Bagian ini mudah dilakukan pada public speaking, namun agak sulit mengadaptasinya pada dunia tulis menulis. Salah satu tips yg bisa dilakukan adalah seperti yg dilakukan oleh Mas TianAri, Dyah, dan beberapa teman lain yang sangat rajin menanggapi setiap reply yg dialamatkan pada postingannya. Hal tersebut membuat pembaca merasa dihargai dan bersedia untuk mampir lagi ke sana.

3. Perbanyak berlatih. Tips ini terdengar kuno, namun hampir selalu berhasil padaku tiap kali aku mempelajari hal baru yang mana aku kesulitan menemukan guru yg bisa mengajariku. Learning by doing ini memang melelahkan pada awalnya dan butuh mental yg cukup untuk menghadapi kegagalan. Kadang tulisan-tulisan pertama kita terasa njelehi dan tampak jelek banget. Namun jangan sedih, dengan menyadari bahwa tulisan kita jelek sebetulnya adalah sebuah awal yg bagus. Kita tinggal menemukan apa yg membuat kita merasa tulisan kita jelek, dan tentu saja untuk tayangan berikutnya bisa membuatnya lebih bagus.

Well, busyet dah, kok simple banget sih tips menulisnya ? Ya memang simple kok, lah wong zaman internet gini anak kecil aja juga sudah bisa menulis kok. Bukankah itu sebuah pertanda bahwa menulis itu memang simple ?

Lantas, bagaimana caranya menemukan topik yg menarik ? Nah untuk yg ini lebih baik aku tulis pada kesempatan berikutnya karena tulisan ini sudah kepanjangan. Jika teman-teman tertarik, silahkan berdo'a agar mood-ku cukup baik sehingga tulisan itu benar-benar akan jadi ditulis.... he he he

Btw, temen2 ada tips yg lain nggak ? bagi2 dong kalau punya ya


Posted at 12:42 pm by bank_al
Comments (2)  




Thursday, June 22, 2006
Darimana datangnya mood ?

Aku seringkali merasa malas melakukan sesuatu dan menunggu mood baru sesuatu itu aku lakukan. Salah satu alasan mengapa MP-ku tidak seramai MP-nya Mas Tian apalagi Mpok Ari adalah karena aku seringkali menunggu mood dulu sebelum mulai menulis.

Mood ini tidak hanya menjadi masalahku dalam hal tulis-menulis dan isi-mengisi MP ataupun blog. Lebih parah lagi, juga mempengaruhi banyak hal seperti mood mengerjakan tugas kuliah, mood programming, dan bahkan mood menyiram bunga dan mood memotong rumput.

Baru saja aku membaca blog-nya Titin dan menemukan fakta baru bahwa ternyata ada observasi yang menunjukkan bahwa "pulang ke Indonesia" bagi mahasiswa Indonesia yg sekolah di Jepang ternyata men-down-kan mood. Hasil observasi ini membuatku berhipotesa bahwa salah satu hal yang mempengaruhi mood ini adalah lingkungan. Mood teman-teman yang sekolah di Jepang jadi berubah karena terpengaruh oleh mood orang-orang di sekitarnya.

Lho, bagaimana dong dengan aku yg di Indonesia ? Mungkin mood bekerja, berkreatifitas, belajar dan menyiram bunga (lho, kok menyiram bunga masuk lagi di sini ?) juga terpengaruh oleh orang-orang di sekitarku. Memang hampir tidak pernah aku melihat orang yg bersemangat bekerja di sekitarku. Mayoritas orang tersebut bekerja hanya karena BU saja (alias Butuh Uang). Semisal mereka tetap dapat uang namun tidak bekerja, mungkin mereka tidak akan bekerja.

Walaupun demikian, rasanya kurang tepat juga jika menyerahkan kendali mood pada lingkungan saja. Jika saja lingkungan selalu bisa dipilih, maka mungkin menyerahkan kendali lingkungan pada mood boleh-boleh saja. Namun celakanya tidak semua orang bisa memilih lingkungannya. Kadang orang mempunyai kurang banyak alternatif sehingga pilihan terbaikpun belum tentu pilihan ideal. Oleh karenanya, alangkah baiknya jika saja mood itu bisa dikendalikan secara internal dan tidak lagi dikendalikan oleh faktor luar.

Nah, pertanyaanya ? Darimana datangnya mood ? Bagaimana caranya mengendalikan mood secara internal ? Ada yang mau berbagi pengalaman ?


Posted at 09:49 pm by bank_al
Comments (4)  




Saturday, June 10, 2006
Permanen atau Kontrak ?

Aku teringat ketika beberapa tahun yang lalu beberapa temanku masih bekerja dengan status kontrak. Saat itu mereka selalu mengeluh dan tiap hari bermimpi agar suatu saat mereka bisa mendapatkan status permanen di tempatnya bekerja. Pada saat itu aku hanya bergumam dan mengatakan pada mereka bahwa status permanem belum tentu pilihan yang terbaik buatmu.

Akhirnya, walaupun setelah bertahun-tahun menunggu, permintaan mereka terjawab. Status permanen yang mereka idam-idamkan sejak lama mereka dapatkan. Aku pun tertarik untuk bertanya dan mengetahui keadaan mereka. Rupanya perkiraanku sebelumnya tidak meleset, ternyata status permanen tidak juga membuat mereka bahagia. Mengapa ? Karena "take home pay" yg didapat setelah permanen ternyata lebih kecil. Apalagi ditambah kenyataan bahwa karyawan permanen tidak mendapat lembur walaupun seringkali harus bekerja hingga malam ataupun di hari libur.

So, ternyata menjadi karyawan dengan status permanen tidak selalu lebih baik daripada kontrak. Saya jadi teringat teman saya, Mas RDP, yang memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya untuk mendapatkan pekerjaan yg baru dengan status kontrak. Yg cukup mengejutkan bagi sebagian orang adalah karena Mas RDP sudah berstatus Manager dan establish di perusahaanya yg lama. Lantas mengapa Mas RDP memilih keluar dari kestablian dan memilih pekerjaan baru dengan status kontrak ? Tentu saja hanya Mas RDP sendiri yg bisa menjawab. Aku sendiri hanya bisa menduga bahwa Mas RDP ini adalah orang yg percaya diri bahwa tanpa status permanen-pun dia akan tetap bisa mendapatkan pekerjaan lagi. Oleh karenanya, lulusan Teknik Geologi UGM yg aktif di IAGI ini memilih status kontrak dengan rate salary International.

Lain lagi dengan temanku Komo. Sebelumnya dia telah bekerja dengan status kontrak dengan gaji yg cukup besar. Entah kenapa dia malah pindah mencari kerja di pedalaman Sumatra sana dengan income yg relatif lebih kecil demi mendapatkan status permanen. Sebagian teman-teman saya bertanya mengapa mantan sekretaris pencinta alam ini memilih untuk bekerja di pedalaman sementara konon peluang untuk mendapatkan gaji yg jauh lebih besar bisa didapatkannya di Jakarta karena pekerja dengan keahlian seperti dia saat ini sedang langka di pasaran. Mengapa bisa begitu ? Lagi2 cuma Komo yg bisa menjawab.

Aku sendiri belum pernah mendapatkan pekerjaan dengan status kontrak, sehingga tidak begitu tahu bagaimana rasanya bekerja menjadi karyawan kontrak. Untuk saat ini, jika saja ada yang mau menggajiku dengan salary dan benefit 3 kali lipat dari yg kudapat sekarang, mungkin saja akan kuterima walaupun statusnya kontrak.

Bagaimana menurut pendapat teman-teman ? Ada yg sudah punya pengalaman bekerja dengan status kontrak dan permanen dan bisa turut berbagi cerita ?


Posted at 04:41 pm by bank_al
Comments (4)  




Next Page



bank_al
My name is Alfred Alinazar. People call me "bank al". If you meet someone called himself "bank al", he's most probably me.

[ online ]



   





<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30






Contact Me

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed